Artikel Detail

Modernisasi Antarmuka Coretax untuk Mendukung Teknologi Informasi yang Lebih Andal

Modernisasi UI/UX Coretax: Membangun Layanan Pajak yang Lebih Ramah Pengguna


Ketika berbicara mengenai transformasi digital di bidang perpajakan, perhatian sering kali tertuju pada pengembangan teknologi mutakhir, integrasi data yang semakin luas, atau peningkatan kapasitas sistem. Namun, dari sudut pandang pengguna, keberhasilan sebuah layanan digital umumnya diukur dengan indikator yang jauh lebih sederhana. Apakah layanan mudah ditemukan? Apakah prosesnya cepat diselesaikan? Dan apakah sistem nyaman digunakan melalui perangkat yang digunakan sehari-hari?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting sejak hadirnya Coretax sebagai fondasi baru administrasi perpajakan di Indonesia. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan beragam layanan perpajakan dalam satu platform terpadu sehingga interaksi antara wajib pajak dan otoritas pajak menjadi lebih efisien. Meski demikian, sebagaimana implementasi sistem berskala besar pada umumnya, ruang untuk penyempurnaan tetap tersedia agar layanan yang ada tidak hanya lengkap dari sisi fungsi, tetapi juga mudah dipahami dan digunakan.


Dalam kerangka tersebut, pengembangan antarmuka dan pengalaman pengguna (UI/UX) Coretax menjadi salah satu agenda strategis. Pembaruan ini tidak hanya bertujuan mempercantik tampilan aplikasi, melainkan juga mendukung upaya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam membangun teknologi informasi yang semakin andal sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis DJP 2025–2029.


Salah satu sasaran yang ingin dicapai melalui renstra tersebut adalah terwujudnya pengelolaan sumber daya organisasi dan teknologi informasi yang efektif serta dapat diandalkan. Selama ini, keandalan teknologi sering dikaitkan dengan kekuatan infrastruktur, keamanan sistem, atau kemampuan menangani transaksi dalam jumlah besar. Walaupun faktor-faktor tersebut sangat penting, layanan digital masa kini juga ditentukan oleh kemudahan penggunaan yang dirasakan pengguna.


Sistem yang stabil belum tentu memberikan pengalaman yang optimal apabila pengguna masih kesulitan menemukan fitur yang dibutuhkan atau harus menghabiskan banyak waktu untuk memahami alur layanan. Sebaliknya, aplikasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna cenderung lebih mudah diterima dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pengalaman pengguna kini menjadi bagian integral dari kualitas layanan digital, bukan lagi sekadar elemen pendukung.


Tantangan dalam Pengembangan Layanan Digital


Inisiatif modernisasi UI/UX Coretax lahir dari berbagai evaluasi yang dilakukan selama sistem digunakan secara lebih luas. Beragam masukan dari pengguna menunjukkan adanya kebutuhan untuk menyederhanakan navigasi, terutama bagi pengguna yang baru pertama kali mengakses layanan. Selain itu, tuntutan akan tampilan yang lebih responsif juga semakin menguat seiring meningkatnya penggunaan perangkat mobile dalam aktivitas sehari-hari.


Masukan tersebut diperoleh melalui berbagai saluran, mulai dari unit layanan DJP, kanal pengaduan resmi, hingga interaksi masyarakat di media sosial. Meskipun berasal dari sumber yang berbeda, sebagian besar mengarah pada harapan yang sama: layanan perpajakan digital yang lebih intuitif, mudah dipahami, dan memberikan pengalaman yang konsisten di berbagai perangkat.


Perubahan pola penggunaan teknologi turut menjadi faktor penting. Jika sebelumnya komputer desktop mendominasi akses layanan digital, kini telepon pintar dan tablet menjadi perangkat utama bagi banyak masyarakat. Kondisi ini menuntut aplikasi pemerintah untuk mampu beradaptasi dengan berbagai ukuran layar tanpa mengurangi kenyamanan pengguna.


Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Otoritas pajak di berbagai negara juga menghadapi tantangan serupa dalam menyederhanakan interaksi antara pengguna dan sistem digital yang mereka kelola.


Sebagai contoh, Australian Taxation Office (ATO) mengembangkan layanan digital yang tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga pada pengalaman pengguna. Berbagai fitur dirancang agar mudah diakses melalui alur yang sederhana dan dapat dipahami oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Pengalaman ini relevan mengingat hubungan kerja sama yang telah lama terjalin antara DJP dan ATO dalam berbagai program penguatan administrasi perpajakan.


Pendekatan serupa diterapkan oleh HM Revenue & Customs (HMRC) di Inggris melalui konsep user-centered design. Dalam pendekatan ini, kebutuhan pengguna menjadi dasar utama dalam penyusunan informasi, navigasi, serta alur layanan. Dengan demikian, masyarakat dapat menemukan layanan yang dibutuhkan tanpa harus memahami struktur organisasi atau proses internal yang berada di balik sistem.


Pengalaman berbagai administrasi perpajakan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Faktor yang sama pentingnya adalah kemampuan sistem menghadirkan pengalaman yang sederhana, intuitif, dan mudah dipahami sejak pertama kali digunakan.


Menjadikan Masukan Pengguna sebagai Dasar Perbaikan


Semangat tersebut menjadi landasan dalam pengembangan UI/UX Coretax. Salah satu fokus utama pembaruan adalah menyederhanakan interaksi pengguna dengan layanan yang tersedia. Melalui penguatan hierarki visual, informasi yang paling penting dapat lebih mudah dikenali sehingga pengguna dapat memahami langkah yang harus dilakukan secara lebih cepat.


Penyempurnaan juga dilakukan pada aspek navigasi. Kehadiran mega menu memungkinkan berbagai kelompok layanan ditampilkan dalam satu tampilan yang lebih terorganisasi. Dengan struktur seperti ini, pengguna tidak perlu menelusuri banyak lapisan menu untuk menemukan fitur yang dibutuhkan. Selain mempercepat pencarian layanan, pendekatan tersebut membantu pengguna memahami keterkaitan antarfitur secara lebih jelas.


Untuk meningkatkan kemudahan akses, Coretax juga menghadirkan fitur pencarian global. Melalui fitur ini, pengguna cukup memasukkan kata kunci untuk menemukan layanan yang diinginkan tanpa harus mengingat letak menu secara spesifik. Solusi ini diharapkan dapat menghemat waktu sekaligus mengurangi potensi kebingungan saat menggunakan sistem.


Aspek responsivitas menjadi salah satu perubahan yang paling dirasakan pengguna. Antarmuka terbaru dirancang agar mampu menyesuaikan tampilan secara otomatis sesuai ukuran layar perangkat. Fitur-fitur yang sebelumnya lebih optimal diakses melalui desktop kini dapat digunakan dengan lebih nyaman melalui perangkat mobile.


Sebagai contoh, sidebar layanan dapat berubah menjadi drawer yang muncul saat diperlukan dan tersembunyi ketika tidak digunakan. Di sisi lain, kelompok layanan tetap dapat diakses melalui tab yang dapat digeser secara horizontal. Pendekatan ini menjaga konsistensi pengalaman pengguna tanpa mengurangi fungsi utama yang tersedia.


Pembaruan juga diterapkan pada halaman beranda. Informasi yang sebelumnya terpusat pada satu banner utama kini disusun dalam beberapa kelompok informasi melalui kombinasi tab dan banner bergilir. Selain meningkatkan efektivitas penyampaian informasi, desain ini membantu menjaga tampilan tetap rapi dan proporsional di berbagai jenis perangkat.


Seluruh proses modernisasi dilakukan secara bertahap. Pendekatan ini memungkinkan setiap perubahan diuji, dievaluasi, dan disempurnakan berdasarkan masukan pengguna sebelum diterapkan secara lebih luas.


Penyempurnaan yang Terus Berjalan


Salah satu keunggulan dalam proses modernisasi UI/UX Coretax adalah pemanfaatan kapasitas pengembangan internal. Dengan pendekatan ini, tim pengembang memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk mengevaluasi kebutuhan pengguna, mengakomodasi masukan, serta melakukan perbaikan secara cepat dan adaptif.


Kedekatan antara tim pengembang dengan proses bisnis perpajakan maupun pengguna layanan menjadi nilai tambah yang memungkinkan perbaikan dilakukan secara lebih tepat sasaran. Ketika ditemukan area yang masih memerlukan peningkatan, penyesuaian dapat dilakukan tanpa harus menunggu siklus perubahan yang panjang.


Model pengembangan seperti ini mendukung proses penyempurnaan yang berkelanjutan. Seiring bertambahnya jumlah pengguna dan berkembangnya kebutuhan layanan, berbagai aspek antarmuka maupun pengalaman pengguna akan terus dievaluasi agar sistem semakin sederhana, responsif, dan mudah digunakan.


Pada akhirnya, transformasi digital tidak hanya dinilai dari banyaknya layanan yang berhasil didigitalisasi atau kompleksitas teknologi yang digunakan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan masyarakat memanfaatkan layanan tersebut dengan mudah untuk memenuhi kebutuhannya.


Dalam konteks tersebut, modernisasi UI/UX Coretax memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perubahan tampilan. Di balik pembaruan yang terlihat di layar, terdapat upaya membangun pengalaman layanan yang lebih sederhana, lebih intuitif, dan lebih berorientasi pada kebutuhan pengguna. Sejalan dengan arah Renstra DJP 2025–2029, langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan teknologi informasi yang tidak hanya andal dari sisi sistem, tetapi juga mampu memberikan kemudahan nyata bagi masyarakat.